Blog EntryB4 - Kreatifitas tanpa batasJun 24, '08 5:11 AM
for everyone

Gaung "B2W day" makin terasa...
diawali dengan bersepeda ke istana...
perhelatan jumat kemarin telah usai...
tapi kreatifitas tidak boleh usai tidak boleh berhenti
kreatifitas harus terus melintas dan terlintas bahkan menetas tanpa batas

dear robekers,

untuk mewujudkan B4 (Bekasi Bertabur Banner BiketoWork) yang gaungnya bisa sama dengan ledakan C4 atau paling tidak sama hebohnya dengan konser F4, ide-ide kreatif untuk mengisi banner sangat diperlukan.
Mari kita tuangkan ide yang terlintas di benak kita untuk menjadi jargon-jargon propaganda
sehingga bisa mempengaruhi, bisa mensugesti, bisa mengajak bahkan menghipnotis saudara-saudara kita menjadi sadar akan banyaknya kebaikan kalau kita tidak mau menyebutnya dengan keuntungan menjadi seorang B2Wers.
Mari kita sumbang saran ide-ide kita, gagasan-gagasan tanpa saling mengomentari dulu, tanpa
saling mencela. Apapun idenya, apapun bahasanya atau segila apapun gagasannya silakan disumbangkan. Gagasan kita tidak akan habis karena disumbangkan..

untuk memudahkan,
berikut kata-kata kunci sebagai umpan untuk mendapatkan idea.

bbm, bensin, solar, air, roti, singkong, energi, sepeda, irit, hemat, murah, hijau, polusi, bersih, sehat, bugar, lingkungan, global warming, bumi, sahabat, kendaraan, macet, lancar, tertib, iklim, boros, partisipasi, sumbangsih, jalur sepeda, kantor, udara, waktu, saat, tepat, jangan, ragu, takut, malu,ciptakan, bangga, ruang, disiplin, teman, banyak, olahraga, tambah ilmu, pengetahuan.

atau bisa gunakan lawan kata dan persamaan kata dari kata di atas.

sekonyol apapun, segila apapun, sejelek apapun, mari kita sumbangkan gagasan kita.
misalnya:
- Dengan bersepeda ke kantor kita ciptakan Udara Bersih
- Dengan bersepeda ke kantor kita ciptakan udara Segar
- Dengan bersepeda ke kantor kita ciptakan udara tanpa Polusi.
- 100% Hemat BBM, kendaraan berbahan bakar air.
- Mau Irit, Ya bersepeda ke kantor.
- Mau Boros, Ya Jangan Bersepeda ke kantor.
- Tips Irit BBM, Mudah & Murah, Ya Bersepeda saja.

seperti kata pepatah...
10 km tidak akan tercapai tanpa gowesan pertama.
20 km tidak akan terasa bila kita gowes bersama.

satu hal lagi, jangan berkecil hati bila ide, gagasan atau hasil karya kita digunakan oleh saudara-saudara kita yang lain. Kita harus berbesar hati bahwa hasil karya kita adalah hasil yang baik.Dan digunakan untuk hal yang baik untuk kepentingan B2W secara menyeluruh...

Go B4


salam

iwanqq
salah.makan.obat.semalam


Blog EntryJumat-RI, Sabtu-RA, Minggu-RTJun 23, '08 10:29 PM
for everyone

Jumat-RI


Sebelum ayam berkokok, Sebelum Menara-menara Mesjid menyuarakan Adzan Subuh. Sementara yang lain masih terlelap. Pada pukul 4.15 --> 3 pendekar Robekers perguruan selatan yaitu Om Anggun (pendekar Reshe) Om Diding (pendekar Dodol76) dan Om Iwanqq (pendekar Girli) meluncur offroad menuju Cilangkap untuk menjemput Bang Andi Malarangeng. Bergabung dengan pendekar seperguruan 1PDN untuk bersama-sama gowes ke Bundaran HI dengan kecepatan kenceng dan konstan. Kemudian bergabung dengan pendekar Robekers dan pendekar B2Wer segala penjuru yang dashyat menuju monas dimana RI-1 telah menunggu untuk gowes bareng ke Istana.

Sabtu-RA


Menemani Om Azis dan rekan-rekan Gemala Group, 6.40 sudah sampai di Gadog. Terlihat rekan2 yang suka nanjak mulai genjot dari arah Ciawi. Kali ini saya nggak genjot ala 1PDN (Jumat kebetulan ketemu om Nota selaku Huji 1PDN di Istana untuk minta ijin tidak genjot dari bawah, takut ada paparazi euy). Tidak juga ngangkot.Tapi ng-avanza sampai warung mang Ade. Tidak begitu rame di RA, ketemu rombongan Red Kampret dari VNI2.
RA kali ini saya bawa Suneo  ...mmm... ternyata bawa fulsus maknyuss...
Sekalian belajar mudun agak kenceng...untuk menghilangkan
Mudunphobia..
Didukung oleh rem yang tidak pakem... meluncurlah saya sekenceng-kencengnya tanpa ngerem di makadam sampai nyalip Pak Dody sebagai road captain. "Katanya Pak Iwan takut turunan, kok kenceng banget"... "sorry pak nggak punya rem..." "jadi nyari pohon pisang buat nge-rem" atau "nyari jalan nanjak".
RA kali ini banyak nyasar yang akhirnya nggak ketemu pyramid dan trek akar setelah pos perhutani, tapi malah ketemu lagi jalur kondangan terusan dari Ngehe-1.
Pulang jalan aspal lemot dengan kondisi rem belakang blong rem depan setengah gigit (jadi inget waktu bareng Om Bimsky si-Jaket Merah yang pernah abis kanvas rem juga).
Alhasil MUDUNPHOBIA hilang karena nggak punya rem. Pulangnya mampir di Oki untuk mengganti kanvas si Hayes MX1
.

Minggu-RT


IIMCC++ komunitas sepeda di RT yang mayoritas gowesernya adalah Ibu-Ibu Muda (IIM). IIMCC++ masih tetap rutin gowes setiap Minggu pagi. Rute Minggu ini adalah rute teduh dan tidak menyentuh jalan raya kecuali hanya untuk menyebrang saja. Full Offroad.. 22 km dengan waktu gowes 2 jam diluar kuliner "Teh Poci" dan kawan-kawannya.

 


Blog EntryMUDUNPHOBIAJun 6, '08 6:22 AM
for everyone

Ini adalah mudun yang sebenar-benarnya...
bukan mudun versinya 1PDN.
Terus terang sebenarnya saya takut yang namanya mudun.
Istilah psikologinya Mudunphobia.
Seringkali saya pake jurus TTB sebagai jurus pamungkas dalam menghadapi trek mudun.
Kurang bijak dan kurang menjadi contoh yang baik rasanya bila pada saat menjadi guide atau road captain tiba-tiba harus turun apabila dihadang trek mudun.

"belajar dong ah"!!! suara itu yang dibisikin oleh alter ego saya.

Jadilah Sabtu itu - 17 Mei 2008, saya belajar mudun dalam artian yang sebenar-benarnya...
Sepeda diarahkan pada trek-trek yang mudun, tapi berhubung nyubie jadi belajarnya di turunan yang gak terlalu extreem-lah.

Hasilnya...?
Lumayan-lah bisa mudun.

Besok Sabtu, 7 Juni, belajar lagi ah...

salut buat temen2 DH'er


Blog EntryKita ditipu IPDN!!!Apr 7, '08 5:25 AM
for everyone

Ini adalah kedua kalinya saya mengikuti Studium Generale IPDN, setelah pada 1 Maret ikut kuliah perdana Gadog-RA (3sks) yang berjarak 21.5km.
Kuliah kali ini adalah ke bumi Perkemahan Sukamantri Gn.Salak Bogor yang hanya berjarak 12-13 km saja dari starting point yaitu Lippo samping Balai kota Bogor. Kami berdua, Iwanqq-Blacken sampai di Starting point jam 6.20, dan sudah hadir om Cipluk Ireng beserta temen-temen PCS lainnya.
Berbeda dengan Gadog-RA yang jalannya mulus dan nikmat. Sukamatri memiliki trek yang  bervariasi, mulai dari jalan aspal mulus, rusak, batu-batu lepas, batu-batu jahanam laknat, batu makadam sampai batu berlumut.
Dan sungguh suatu kehormatan bisa genjot bareng dengan atlet-atlet dari PBS Sinar Sentosa Purwakarta yang ingin mencicipi trek ini. 

Setelah briefing pada jam 7.30 oleh om Nota selaku Huji IPDN dan Om Dani Ti Bogor selaku Puri IPDN di Lippo Bogor, kelonan 1 (kelompok nanjak 1) mulai start jam 7.44 dengan  Om Lilik sebagai Road Captain.
Etape pertama musuh para nanjakers adalah angkot!!!, gimana nggak begitu keluar start aja sudah dihadang angkot-angkot ijo. Bogor memang selain terkenal dengan kota ujan, juga dijuluki kota sejuta angkot. Dari balaikota lurus terus, didepan Museum Zoologi para praja dan calon praja belok kanan menuju Jl. Empang (Ramayana). Saya teriak sama om Blacken "Blacken, kita ditipu IPDN nih, katanya nanjak. Ini kan turunan terus". Jalan memang menurun sampai lampu merah,kami belok kanan dan jalanan masih tetep menurun. Setelah melewati jembatan Cisadane, ada pertigaan ke kanan ke Ciomas ke kiri ke Cikaret .Ambil jalur ke kiri kearah Cikaret.
Mulai dari sinilah "kutukan" itu harus dinikmati. Rupanya seperti kata pepatah kita harus bersusah-susah dahulu untuk mendapatkan tanjakannya. Tabokan demi tabokan saya layangkan ke arah shifter kanan, dan tetap terjaga jangan sampai nabok abis, sehingga nggak bisa nendang pedal lagi. Setelah tabok-tabokan dan tendangan-tendangan. akhirnya kelonan 1 sampai di Pos 1 pada pukul 8.15. Kelonan masih terjaga dengan baik dan tidak harus menunggu lama.

Dengan rona wajah riang kelonan satu pada Jam 8.28 start lagi untuk menuju Pos2.
secara bertahap dekadensi trek dimulai. Mulai dengan aspal masih mulus, lalu aspal berlobang sampai jalan aspal rusak dan jalan yang aspalnya gak tau kemana,hanya tinggal batunya saja. Bahkan menjelang orgasme di Pos2 adalah batu-batu lepas. Dashyattt Om.
Terdengar seorang Praja berteriak pake bahasa Perancis "Waduhhh, beak gigina euy!!! "Sok atuh lamun gigina tos beak mah "gigitekan bae atuh" begitu saya timpali.
Akhirnya satu-persatu kami sampai di Pos 2 pada pukul kira-kira 8.40.

Jam 9.00 mulai start lagi dari Pos 2, trek jahanam dimulai. Batu-batu besar, batu batu kecil, yang bulet, yang gepeng, yang tajam dan yang tumpul ngobrol jadi satu dan selalu bergerak kaya Ibu-ibu arisan. "Kaya Inul Euy" naik sepeda goyang-goyang terus.
Udah Panas, jalanan Rusak, Nanjak lagi --> Apa sih yang kau cari nak?
Satu-satu mulai turun karena goyangan Inul,cari tempat yg enak buat genjot,lalu mulai naik genjot lagi. Luar biasa, para praja nggak ada yang putus asa. Di kejauhan tampak seorang praja gowes agak ke kanan, tiba-tiba Hilang!! Wah sakti nih, punya ilmu Panglemunan kaya Invisible Man. kekekekkek ternyata dia oleng ke kanan dan jatuh masuk ke semak2 sampai menghilang.
Setelah ditemani teriknya matahari, nggak lama kami mulai memasuki hutan pinus yang rindang. Alhamdulillah, nikmat banget...
dengan semilir angin di punggung Gunung Salak ini terasa menyejukkan.
Sampailah di Gerbang Kujang Raider pada jam 9.30.
Dengan kontur trek yang berubah menjadi makadam yang dipenuhi lumut dan Pohon Pinus yang Tinggi sebagai Kanopi, kami menuju Bumi Perkemahan Sukamantri sebagai titik akhir tanjakan. Menjelang Finish ada trek yang menggoda penikmat, untuk melakukan "shortcut". Dan tidak tanggung-tanggung yang melakukan kecurangan ini adalah Dekan Pakultas Moron. Saya protess keras!!! "Kok curang Om". Dengan Bijak Pak Dekan menjelaskan bahwa
ini bukan curang, ini adalah cara-cara yang "smart". Karena Guru, harus digugu dan ditiru, maka sayapun mengikuti cara smart yang dilakukan Pak Dekan Pakultas Moron itu.  Rupanya curang dan smart bedanya sangat tipis.

Saya sampai di Sukamantri jam 9.44. Berarti 2 jam saja dari Start point. Dua botol frestea dengan es + 1 gelas kopi item + Indomie Goreng menemani pendinginan, sebelum kami balik kanan melalui jalur Kondangan. Nggak lama satu persatu rekan kelonan 1 lainnya mulai bermunculan. Juga rekan-rekan BSD, om Halim Cs.

Pak Huji sampai jam 10.22 dan langsung bertiker ria.
Nggak berapa lama muncul Juara Gadog-RA om Inu yang gowes hanya mengenakan Bike Pant, edannnnn!!!!

Setelah berpamitan dengan para Praja dan Pejabat IPDN, jam 10.40 kami bertiga Om Blacken, Om Lukman dan saya meluncur balik kanan. "Emang Enak pake hardtail!!!!", begitu teriak Blacken meledek saya dari Anthems tunggangannya. Ya, Nggak enak sih Om - sakit hatiku diledek. Orang dari Sukamatri sampai Pos 2, saya gak berani duduk. Berdiri teruss!!!.Tangan tremorrrr...Kepikiran Gak Ngerem Ah, tapi baru sebentar sudah laju kenceng
& takut "tikusruk" akhirnya pencet rem lagi.
Sambil turun, memberi semangat juga kepada praja kelonan 2 yang sedang menikmati batu-batu laknat. "Ayo Om tinggal 2 belokan lagi!!!".
Di Pos 2 kami berpisah dengan Om Lukman yang mengambil jalur kanan, yaitu jalur yang sama pada saat berangkat. Kami berdua belok jalur kiri, yang jaraknya terpaut 2 km lebih jauh. Pulangnya nggak ada yang istimewa karena jalurnya hanya turunan saja. bossseennn.
11.30 kami sampai di samping balaikota lagi, dan langsung meluncur ke Bekasi.

Terimakasih kepada Rektor, para Guru Besar, senior dan seluruh civitas academica IPDN Cycling. sampai jumpa di kuliah berikutnya.
Hmmm, ternyata mitos itu tidak benar. Tidak ada kekejaman seperti yang kukira.


Blog EntrySurvey Rute Tadi MalamMar 18, '08 6:25 AM
for everyone

Sudah 2 malam, yaitu Jumat malam dan Senin tadi malam saya pulang dengan rute Om Diding & Om Biyoso, yaitu lewat Pasar Kecapi.
Berhubung cuaca kemarin cerah, dan langit agak terang. Diputuskan untuk mencari rute baru yang lebih dekat, yaitu Jalur Pinggir Tol JatiWarna.

19.30, sudah sampai di bundaran Jatiwarna, setelah belok kiri dari Pasar Kecapi.
Ambil jalan yang lurus (begitu kata pak Ustadz), saya ikutin jalan lurus di samping rumah makan Padang, lalu belok kanan ke jembatan penyebrangan tol kemudian belok kiri (begitu kata Om Diding). Jalur sangat enak, nyaman, sepi, kosong, mulus dan turun terus....
ujung turunan adalah kolong jembatan tol untuk menuju jalur sebrangnya. Setelah kolong tol ada tanjakan mulus, yang kalau dilihat dari arah adalah menuju keluar Tol Jatiasih. (wah sudah dekat, cepet sekali sampai begitu yang ada di benak). langsung saya tancap
tanjakannya.
Beberapa orang menyapa, "baru pulang pak?". "eh. iya" jawab saya dengan ramah.
Setelah tanjakan terlihat hanya 1 - 2 rumah saja dengan penerangan Lampu Pijar (bohlam, begitu orang belanda bilang), dan jalanan berubah menjadi jalan tanah. Asyik nih single track, kembali hanya diterangi lampu jalanan bohlam yang dengan tiang bambu. Malam itu saya tidak pake lampu sepeda karena baterai sedang lemah.
Akhirnya setelah beberapa lama di kegelapan, karena langit yang terang tidak bisa menembus rindangnya pepohonan. Sampailah saya ditempat yang kembali ada
penerangan. Ternyata itu adalah pemancingan. Istirahat sebentar sambil minum (tentunya sambil berpikir arah mana lagi yang harus diambil, ke kiri pemancingan, ke kanan kebun, lurus sawah).

"Mau kemana Pak?" saya dikejutkan oleh sapaan.
ternyata adalah pengurus pemancingan.
"Ke Arah JatiAsih atau Komsen Pak" jawab saya.
"Wah bapak salah jalan, memang banyak sepeda yang suka nyasar ke sini Pak?" kekkekekekekkek. ..
ternyata nyasar gak sendirian.

Saya memang bukan penganut ajaran "malu bertanya sesat dijalan", tapi jalan dulu terus tersesat, baru nggak malu bertanya.

Akhirnya ditunjukkanlah jalan yang benar, yaitu..
jalan normal melalui PuriGading yang saya sudah tahu..
wuiksss 30 menit hanya untuk nyasaaaarrrr.
Langsung Balik Arah...
masih penasaran, diperjalanan saya bertanya kepada orang lain. jawabannya tetap ditunjukkan jalan yang sama...

Penasaran...
kayaknya dulu pernah di daerah sini dan keluar di Jl. Bina Asih dekan Pom Bensin, hanya waktu itu rute saya dari arah Perum Angkasa Puri Jati Mekar.

Diperjalanan pulang harus melalui beberapa Kuburan, karena di kampung Kebantenan jalan malam itu tertutup ada acara di Pesantren, dan mau tidak mau harus melalui kebun bambu... hiyyyyyy......

Akhirnya 20.30 sampai di rumah.

hallo rekan-rekan PGCC, JJ, JatiAsih, Jatiluhur, Telkom, VNI, SaptaPesona, Mandosi, Bumi Mutiara, Danamon, Jatisari, Angkasa Puri  ada yang tahu gak yah rute yang benarrrrrr.....(maaf yang tidak keabsen).


28 Februari 2008, Kang Gito menghembuskan nafas terakhir selepas maghrib 18.45. Siapa sih Gito Rollies, demikian pertanyaan yang diajukan anak saya yang ABG?.....memang banyak yang tidak mengenalnya...  Beberapa waktu yang lalu saya sempat meminta ijin Om Denny Sakrie (DS), seorang pengamat musik, untuk mengutip tulisannya yang sebelumnya dimuat dikoran Tempo. Bagi saya Om DS ini adalah kamus berjalan untuk musik.  Kebetulan salah satu lagu yang diungkap dibawah ("It's A Man's Man's Man's World") adalah favorit saya. Terimakasih Om DS atas ijinnya. Iwan=>bukan pengamat musik, bukan musikus, hanya penikmat musik.

KEPERGIAN SANG TUAN MUSIK
                            Oleh Denny Sakrie
(Koran Tempo Minggu 2 Maret 2008 halaman 21)
 
Pasang telinga,dengarlah hentakan musik ceria
Sambutlah datangnya hari ini
Buka jendela buanglah malasmu jauh kesana
Jadikan hari ini milikmu
Oh musik musik dengar Tuan Musik
Yang bernyanyi untukmu…….

(Tuan Musik,Gito Rollies 1984)
 
 
Tak ada lagi suara parau Gito Rollies yang melantunkan lagu “Tuan Musik” karya Oetje F Tekol yang termaktub dalam album solo perdananya di tahun 1984.Lelaki kelahiran Biak 1 November 1946 (1947,kali om DS) dengan nama lengkap Bangun Soegito Toekiman ,telah menghembuskan nafas terakhir tepat selepas Maghrib pada jam 18.45 WIB di RS Pondok Indah Jakarta Kamis 28 Februari 2008.
Kita pun terhenyak.Betapa tidak ? Pada Sabtu 12 Januari 2008 lalu,sosok Gito Rollies berkelebat dalam FTV bertajuk “Aku Memang Kampungan” di layar RCTI yang menceritakan perjalanan musik Kangen Band.Dalam sinetron lepas itu Gito Rollies memerankan dirinya sendiri dan menasehati Kangen Band yang terancam bubar.
Dan Gito Rollies yang sejak November 2007 telah mampu menjejakkan dan melangkahkah kakinya itu pun kembali melakukan dakwah keliling.Namun, Sang Khalik berkehendak lain.Tuan Musik pun harus memenuhi panggilanNya.
Hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada Jumat jam 13.30 WIB saat jasad Gito akan dikebumikan di TPU Tanah Kusir,laksana turut menyatakan duka yang dalam.
Siraman hujan seolah menguak kembali adegan demi adegan yang pernah dipertunjukkan Gito Rollies dalam kancah hiburan negeri ini.Tanpa terasa ternyata hampir 40 tahun Gito menghibur kita semua lewat alunan musiknya dan ketrampilannya berolah akting baik di layer lebar maupun di layar kaca.
Kembali terpapar di pelupuk mata saya manakala Gito senantiasa melantunkan lagu yang dipopulerkan mendiang James Brown “It’s A Man’s Man’s Man’s World” :
 
You see man made the cars
To take us over the world
Man made the train
To carry the heavy load
Man made the electro lights
To take us out of the dark
Man made the bullet for the war
Like Noah made the ark
 
Kita seperti melihat sosok Gito Rollies dalam makna lirik lagu yang berkonotasi soul blues itu.Sosok Gito sebagai lelaki yang tegar,yang tampil terdepan sebagai pemimpin.Sosok yang mampu memerangi bayang bayang hitam pada sekujur raganya sendiri.Gito mampu meluluhlantakkan keterkungkungannya terhadap narkoba yang telah menyelimutinya hampir seperempat abad dari usianya.
Sang Khalik ternyata menyayanginya. Memasuki usia 50 tahun Gito yang bergabung dengan kelompok papan atas The Rollies pada tahun 1968 menyadari kekhilafannya ,lalu mengisinya dengan perbuatan yang diridhaiNya.
Walaupun telah berada di jalan Illahi,Gito Rollies toh tidak serta merta meninggalkan naluri kesenimanannya. Dia tetap bermusik.Gito berduet dengan Opick dalam album “Istighfar” (Forte,2005) .Gito menyumbangkan suaranya bersama sederet artis dalam album bertema kemanusiaan seperti “ Tembang Peduli” (Ceepee 1998) hingga album “Kita Untuk Mereka” (Sony BMG 2005) untuk membantu korban Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam.Keingina nnnya untuk membuat album religius pun terwujud di tahun 2007 dengan merilis album “Kembali Pada Nya” (Sony BMG 2007).
Gito tetap setia pada musik rock meskipun dalam dimensi yang berbeda.Dia pun menyelipkan petuah dakwah.Lagu “Hari Hari” yang dilantunkannya pada album New Rollies Volume 3 di tahun 1978 dengan lirik yang beratmosfer hedonistik materialistik pun diubah menjadi :
 
Hari hari datang dan pergi
Dan kemarin bukan hari ini
Yang telah berlalu
Ingatlah selalu
Syukurilah hari ini
 
Sosok Gito pun masih berkibar di layar lebar. Misalnya, ia berperan sebagai penjual buku bekas yang bijaksana dalam film Ada Apa dengan Cinta (2000)yang disutradarai Rudy Sujarwo. Atau berperan sebagai Pak Ucok, yang bekerja sebagai pemutar film di bioskop sinepleks dalam film Janji Joni yang dibesut Joko Anwar. Di film ini juga, Gito Rollies berhasil meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.
Peran peran yang dimainkannya pada era ini memang memperlihatkan jiwa Gito yang stabil.Selalu menebarkan kebajikan pada sesama.Selalu memberikan wejangan.
Ah,kita pun merindukan desah parau Gito Rollies dalam “Burung Kecil”
 
Hai burung kecil silakan pergi
Terbanglah tinggi sesuka hati
Langit yang biru memang milikmu
Mungkin disana damai hidupmu

 
DENNY SAKRIE,pengamat musik


Malam itu baru sampai di rumah, saya terhenyak ketika istri saya memberitahukan bahwa Gito Rollies baru saja pergi meninggalkan kita semua untuk kembali kepada Sang Pencipta. Betapa tidak sosok Sang Rocker yang bermetamorfosis menjadi Dai ini adalah termasuk salah satu pelantun rock yang memiliki suara khas dan sangat saya sukai. Walaupun saya berbeda generasi dengan beliau, tetapi saya banyak mengkoleksi lagu-lagunya tatkala bergabung dengan The Rollies. Selamat Jalan Kang, semoga Allah SWT menempatkan Akang ditempat yang terbaik.

Berikut kutipan dari Suara Pembaharuan yang ditulis oleh Mbak Irawati.

 

Dia Merasa Belum Cukup Bertobat

"Cinta yang tulus di dalam hatiku

Telah bersemi karena-Mu

Hati yang suram kini tiada lagi

Tlah bersinar karena-Mu

Semua yang ada pada-Mu

Membuat diriku tiada berdaya

Hanyalah bagi-Mu

untuk-Mu Tuhanku

Seluruh hidup

dan cintaku..."


masih terngiang lirik lagu Cinta Yang Tulus yang dinyanyikan Bangun Sugito alias Gito Rollies, kala berbincang dengan SP di ruang makan Hotel Grand Mekkah, Arab Saudi, tahun 2006 lalu. Saat itu, kami kebetulan melaksanakan ibadah umroh bersama-sama. Lagu yang pernah dipopulerkan The Rollies itu telah digubah liriknya menjadi lebih religius.

Seusai mendengar Gito membawakan lagu itu, SP dan anggota rombongan lain pun bersemangat memintanya membuat album rohani, dengan memasukkan lagu itu ke dalamnya. Rupanya, Gito juga berpikiran sama. Alhasil, pada 2007 lalu, lagu itu pun dinyanyikannya kembali bersama Gigi dalam album Kembali Pada-Nya.

Kang Gito, begitu sapaan akrabnya, memang bukan lagi Gito Rollies yang lama. Sejak 10 tahun belakangan, hidupnya berubah 180 derajat. Kini, ia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mantan personel band The Rollies ini tak segan-segan berbagi cerita tentang kehidupannya yang dulu dipenuhi dengan alkohol dan obat-obatan terlarang.

"Tiap Jumat siang kami pergi ke Puncak, Bogor untuk melakukan ritual pesta narkoba. Lama kelamaan saya lelah. Apalagi, kami selalu berpapasan dengan orang-orang berbaju rapi, bersarung dan berkopiah yang akan melaksanakan ibadah salat Jumat. Hati saya pun tergerak," tuturnya.

Pelan-pelan, Gito mulai memperdalam ilmu tentang agama Islam. Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.

"Saya pun sempat mengalami masa-masa trance, dimana saya seolah-olah melihat seluruh perbuatan dosa saya di masa lampau. Astaghfirullah, saya merasa takut sekali karena dosa saya banyak," kisah kelahiran Biak, 1 November 1947 ini.

Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.

Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.

"Saat saya sudah belajar agama, saya tidak berupaya menyuruhnya sholat. Ia tiba-tiba belajar salat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika saya pulang, tiba-tiba saya mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal saya tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istri saya memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah," kata ayah dari empat putra ini.

Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.

"Kata beliau, saya jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan saya jadi menantu favoritnya lho," tuturnya sambil terkekeh.

Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.

Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian di kediaman promotor Adrie Soebono, ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya saat ini.

"Tak hanya berkurang, namun dosa Kang Gito bahkan sudah dianggap lunas. Kang Gito jangan berpikir perbuatan baik saat ini untuk bayar dosa yang lalu. Sekarang Kang Gito tengah menabung untuk masa depan," jawab sang ustadz, yang disambut Gito dengan wajah sumringah.

Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Masih terekam dalam benak kala ia menolak untuk naik kursi roda kala melakukan ibadah tawaf (memutari Ka'bah 7 kali) dan sa'i (bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali) yang melelahkan. Masih pula terngiang di telinga, segala pesan-pesannya untuk menjauhi dunia hitam, agar tak mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu. Belum lagi komentarnya yang lucu namun bermanfaat, serta vokalnya yang serak namun merdu.

Selamat jalan Kang Gito. Semoga di rumah barumu di sana, kau mendapatkan keteduhan... [Suara Pembaruan/Irawati Diah Astuti]


Blog Entrytour d'TlajoengJan 27, '08 11:55 PM
for everyone
Terimakasih to Om Jarambah,
juga rekan-rekan RogerBagen & Gragot.
Sebenarnya sudah lama pengen nyicipin trek yang ada di bekasi timur ini, karena secara jarak dengan rumah tidak terlalu jauh. Satu lagi masa orang Bekasi nggak tau trek-trek di Bekasi.
Tahun lalu, 2007, Om Jarambah mulai merayu saya untuk nyoba jalur offroad ini. Om Jarambah memang 'wise, waktu yang ditentukan tergantung saya. Soalnya Sabtu pasti padat, maklum 'ternak-teri' tea. Minggu sudah jatahnya IIMCC gowes.
Akhirnya dapatlah waktu itu Tgl 26 kemarin. tapi tetap dengan batasan waktu 2-3 jam. Berarti
cuman sampai Tlajung aja. begitu saran Om Jarambah.

"Ok. Sabtu tgl 26 Jan jadi. Saya brangkat jam 6.00 lah dari rumah".
"rek naon isuk-isuk teuing, jam 7 cekap Kang!" Saya jemput di Cipendawa yah"
"Siap. jam 7 saya jalan Kang"
"Sabtu besok pak Heru temen akang dan istri akang ikut boseh juga".
(wah ini dia ternyata dunia sempit, dari sepedahan banyak ketemu teman lama).
Lagi-lagi service memuaskan dari Om Jarambah. Saya akan dijemput di Cipendawa.

Hari H.
di Cipendawa di jemput Om Jarambah dan Om Jhonny, menuju Graha Harapan.
Untung dijemput, kalo tidak pasti lewat onrod. Selepas Cipendawa langsung masuk jalan
kecil-kecil trabas sana trabas sini sampailah akhirnya di Graha Harapan.
Jalur pemanasan ini Ok juga tuh Om J.
Sampai di GrahaH, sudah menunggu rekan-rekan Gragot & RogerBagen. Kang Aris dan kang Willman nggak bisa ikut.
Setelah datang om Heru3G, segera brangkat menuju Tlajung, dengan leader Om Jaya.
Di Situ cibeureum ketemu Roger 1 (om Fivin), gowes bareng keluarga (betapa indahnya!).
Yang baru bagi saya di trek ini adalah menyusuri pematang sawah, yang kalau oleh sedikit bisa nyeburrrr!!!. Yang bikin saya rada-rada ngeri adalah adanya pohon pandan berduri dibeberapa trek yang dilewati.
Jembatan miring yang minggu lalu memakan korban Om Abidin dilewati dengan hati-hati (saya sih TTB aja!)
Diwarung Tlajung yang konon ngetop dengan duo kembar "jengkol & pete" ketemu sama Om Syaiful.
Dari warung, perjalanan dilanjutkan muter-muter daerah Tlajung...sampai kira-kira jam12-an
menuju arah pulang.. hmmm, yang juga muter-muter...

Jalan pulang kembali masuk perkampungan. Berpisah dg Om Jarambah & Om Jhonny di perempatan RawaLumbu & arah Cipendawa.

Setelah berpisah, nyasar ke Pedurenan...
"Lurus saja Pak iwan, nanti akan sampai di cipendawa", begitu kata Om Jarambah.
rupanya ini tidak saya hiraukan.
Saking keasikan melihat tukang kelapa muda saya belok kekiri..
satu gelas glekk, masuk (sorry kang, nggak bagi-bagi). lanjut jalan lagi..
lho kok pasar Bantargebang, terus jalan lagi, lihat plang hijau, lho kok jalan ke Dukuh Jamrud lagi!!! waksss!!!
Balik arah...
Lumayan hari itu genap 35km nyampe rumah jam Satu lebih.......

Terimakasih ya Kang Jarambah.
Gak kapok kok, trip menyenangkan. apalagi rekan rekan yang kompak.
dan Sweepernya sabar banget...sehingga walaupun terpisah dapat re-grouping lagi.
Jangan kapok ya Kang Jarambah. mudah-mudahan bisa silaturahmi lagi...


Blog EntryIIMCC+Jan 21, '08 5:02 AM
for everyone
Minggu, 20 Jan 2008

Gowes pagi ini diikuti oleh 8 orang.
ada yang baru.
2 peserta baru.
dan 2 sepeda P*L***N baru.
nambah Bapak Muda nih, IIMCC jadi IIMCC+.
Istirahat di Pos1,
Yang kami sebut Pos1 adalah gardu Satpam Sakura Regency menjelang arah dam/bendungan.
Selagi kami beristirahat dan regrouping, serombongan temen-temen warung MTB melintas, dan membuat kagum anggota IIMCC, karena sepedanya keren2 dan langsung melahap tanjakan di arah kanan pos. (wakakakkaakkkk yang dilihat bukan orangnya yang keren2.)
Perjalanan dilanjut,
beberapa single trek dilahap,
halaman & dapur orang pun dilahap,
beberapa tanjakan dilahap, walaupun ada juga yang tetep be-TTB.
Seperti biasa tanpa gowes kuliner nggak lengkap. Pulang kuliner, IIMCC+ mampir ke Ayung bike.

Total gowes hari ini 10.15km PP.


Blog EntryIndahnya CiptaanNyaJan 21, '08 4:21 AM
for everyone
belajar merekam keindahan alam.

Sabtu, 19 Jan 2008.
Awalnya hanya mau mengadakan survey rute untuk gowes IIMCC hari Minggu,
cuaca pagi itu cerah cenderung puanass, jam 8.30 pedal mulai digenjot. Kira-kira setengah jam sudah dapat rute untuk besok.
Mau pulang masih pagi, lalu perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan di pinggir Kali Cileungsi di belakang VNI, Bumi Mutiara dan akhirnya VNI-5.
Subhanallah... ternyata dibelakang VNI 5 ada air terjun, walaupun airnya pada hari itu seperti bajigur tetapi suaranya sangat menyejukkan. Keluarkan kamera dan klik. klik. klik.
Terekamlah keindahan itu. Kemudian berpikir, kayaknya enak kalau merekam pemandangan lainnya dalam cuaca cerah seperti ini. Sekalian belajar fotografi.
Dari VNI5 nyebrang jl. Ciangsana masuklah ke Trek Barat JJ, sampai di kawasan Gren Kenyon,
Mulai keluarkan kamera dan klik. klik. klik.
Antara yang hijau dan yang gersang semua ada di trek ini. Mulai dari sawah yang baru mulai menghijau, bunga-bunga rumput, sampai gunungan tanah merah nan indah.
Dalam perjalanan pulang, masih terekam pohon tua yang dipenuhi dengan pakis & anggrek merpati (Dendrobium Crumenatum) , nggak terbayangkan bila anggrek ini sedang bermekaran.

Blog EntryJalur Pinggir RelJan 16, '08 9:32 PM
for everyone
Jalur Pinggir Rel,
sebuah alternatif.

Setelah paginya menyusuri Girli Kalimalang yang bebas angkot.
Jalur pulang menyusuri Pinggir Rel.
Start dari Gondangdia menuju Cikini sampai Megaria.
Ambil jalur paling kanan, dilampu merah putar arah menuju Jl. Penataran.
Dimulailah perjalanan tanpa kebisingan dan asap knalpot.
Susuri terus jalur Barel (Bawah rel) sampai mentok. Lanjutkan terus masuk gang kecil yang kalau pagi nampaknya dipakai jualan (di belakang Pasang Bonang). Selama menyusuri gang kecil cukup banyak anak-anak bermain, jadi pelan-pelan aja.
Saya hanya berpapasan dengan 1 sepeda
motor saja.
Akhir dari gang adalah di samping Jembatan Rel kereta api Manggarai.
Berputar arah di Jl. Tambak kemudian dilanjutkan ke arah Station Manggarai.
Melalui jalur ini, tidak akan ketemu Traffic Light sampai dengan Pertigaan Slamet Riyadi- Matraman.


warning!!!
kalau mau lebih cepat, jangan pake jalur pinggir rel,
tapi pake jalur rel-nya. dijamin!!!! (don't try this at home)


Blog EntryKalimalang tanpa AngkotJan 15, '08 9:47 PM
for everyone
Mau?
Pedal Off jam  5.45.
dari rumah tidak lewat jl. Ratna.
rute hari ini melalui Jl. Raya Pondok Gede dan belok di Binus keluar di Jatiwaringin (gamprit).
Mulailah antrian mobil panjang sekalee, gak masalah toh!.
Sampai Pangkalan Jati, ambil jalur kiri 'Girli' kalimalang.
Gowes seger tanpa angkot nyasar dan motorpun sedikit.
Jalan aspal mulus berakhir setelah Akpindo.
Trek offroad segera dimulai.
Diawali dengan  jalan semen, yang lama kelamaan berubah menjadi tanah merah bercampur brangkal. Belum berapa lama memasuki trek offroad, sudah harus menyebrang 'pintu air'
tetapi cukup aman karena jalan cukup lebar (50cm).

Makin lama makin 'renjul' tapi kalau buat fullsussss mah gak terasa (sayangnya sepeda saya
fullrigid depan-blakang).

Melewati beberapa rumah potong ayam, hmm mulai tidak sehat, bau dan laler ijo.
harusnya pake masker nih!!
trek ini juga harus melalui melewati roda-roda dagangan mie ayam dll. yang berderet parkir.

Akhir dari trek adalah Jembatan Halim (lihat peta). sebelum mengakhiri trek harus melewati
dulu bak truk penampungan sampah, phhuihh!

sekian dulu. lintasan peristiwa tadi pagi.
 

Blog EntryGowes dengan IIMCCJan 13, '08 9:12 PM
for everyone
Minggu 13-Jan adalah gowes perdana di tahun 2008 dengan IIMCC, setelah vakum beberapa lama karena berbagai macam kendala.
Apa itu IIMCC ? adalah kependekan dari Ibu Ibu Muda Cycling Community.
Awalnya kegiatan ini adalah gowes menggowes bersama keluarga kami di Minggu pagi, namun kemudian virus ini menyebar ke tetangga, tetangga dan tetangganya lagi.
Pengalaman baru bagi IIMCC minggu ini adalah gowes masuk-keluar kampung dengan pemandangan sepanjang jalan adalah pohon rambutan yang lagi berbuah. Beberapa track yang dilalui adalah single track yang tidak terlalu panjang. Seperti biasa, final destination adalah kuliner.
Diperjalanan pulang, Fulsus Suneo yang dipakai istri saya putus rantai.
Mungkin akibat dipinjem oleh saya dan 'di-abuse' ke Muara Gembong hari Kamisnya.
Musibah membawa berkah. Sambil menunggu saya menyambung rantai, IIM memanen rambutan dari rumah terdekat tak lupa meninggalkan uang 20ribu untuk pemiliknya.

Blog EntryBicycle For Fun Go(w)es To Pesantren 2007 - 2Dec 27, '07 1:36 AM
for everyone
Antara Jonggol-Cariu

Kau Bilang Tanjakan
Aku Bilang Tantangan
       (sambil gowes nunduk,
       gak berani liat ke depan)
Kau Bilang TTB
Aku Bilang TarTarAja
Kau Bilang Turunan
Aku Bilang Ini Dia Kenikmatan Sejati



Sensasi
kenikmatan
55km/jam
tanpa gowes
tanpa rem
di mana lagi
kalau bukan
di
Jonggol - Cariu

Blog EntryBicycle For Fun Go(w)es To Pesantren 2007 - 1Dec 27, '07 12:00 AM
for everyone
Ajakan di milis begitu menggoda,
apalagi dengan rundown acara yang bervariasi.
Tapi mengingat jam gowes yang belum jauh,
Tahu diri dong, pasti nanti akan nyusahin team-lah.
Hanya berbekal keyakinan dan pede.
Walau newbie, Saya bisa, saya mampu, saya kuat.

Kamis,20 Des 07 (Iedul Adha)

Keputusan ...
Kamis setelah shalat ied, ambil HP.

<write message>
"Om saya siap meramaikan gowes besok Sabtu,
 tapi kalau nggak kuat saya mau naik angkot ato
 ojek saja"
 <send message> to om Blacken

<new message from Blacken>
"siyap lah, kalau begitu besok saya bawa tali
buat ngiket sepeda ke angkot ha.. ha.."

Keputusan sudah dibuat....

Jumat, H-1

Persiapan,
- ganti ban 2.1 Maxiss Crossmax ke 1.55 Maxiss Medusa
  harusnya sih ganti ban sleek, tapi gpp berat dikit lah.
- cek fd & rd
- pasang bottle cage
- pasang mud guard
- pasang velo
- pasang lampu depan belakang
- pasang saddle bag, biar mengurangi beban di backpack
pindahlah semua yang diatas dari Active Line ke Bianchi.
Sebelum shalat Jumat selesai sudah.
Ba'da shalat Jumat persiapan packing baju & perbekalan.
Nggak lupa "tali" siapa tahu berguna buat ngiket sepeda atau
derek dengan ojek.
Sore sudah siap semua. Jadi besok pagi tinggal Gowes...wes...wes...


Hari H,
Sabtu 22 Desember 2007

Jam 5.30 start dari rumah menuju Meeting Point Giant Bekasi,
         Sudah menunggu om Blacken & om Bimar (si jaket merah)
         kemudian muncul rekan yang lain Om Aan, Om David, nte Wati,
         Om Azis, om Slamet. Dan juga Om Ijul yang turut melepas kepergian team.
         Setelah berdoa perjalananpun dimulai. Om Azis berpisah di Cileungsi karena
         harus menuntaskan pekerjaanya di kantor.

Jam 6.30  Perjalanan +/- 100km dinikmati oleh team7 pun dimulai.

Cerita selanjutnya, foto yang bicara.


Blog EntryMencoba untuk Jarambah versi 2Dec 26, '07 5:14 AM
for everyone
Minggu, 9 Des 2007

Seperti biasa Start dari Rumah jam 7.00 menuju Dam/Bendungan Sakura Regency.
Air Kali Cikeas tidak seperti kemarin, hari ini agak bersahabat, tapi saya sudah niat hari ini untuk on-road lagi.
Roda diarahkan ke Pemakaman Jatisari untuk berdoa, membersihkan makam putri kami Tiara, dan terutama mengingatkan bahwa pada saatnya kita akan 'kembali' kesana juga.
Kalau kemarin dari Jatisari masuk ke Perum AL Ciangsana. Hari Minggu ini saya ambil jalan kearah Kranggan, kemudian Citra Gran,dan masuk ke arah Jl. Leuwi Nanggung di samping Citra Gran.
Awalnya sih on-road enak, ban bersih. Makin masuk ke dalam ternyata Offroad juga, malah ban sempet bikin donat yang sangat tebal bercampur dengan batu kerikil.
Dari Leuwinanggung terus melaju dan berakhir di pertigaan Cimanggis-Tapos Depok, dari sana meluncur pulang dengan rute Cikeas. Seperti biasa sebelum pulang mampir di Basecamp JJ. pulang bareng Mas Yadi JJ & Om Chandra Kona biru. Lumayan juga dapet 49 km hari ini.

Blog EntryMencoba untuk Jarambah versi 1Dec 19, '07 2:49 AM
for everyone
Terinspirasi oleh 'Kang Jarambah' yang jarambah.

Sabtu, 8 Des 2007

Start dari Rumah jam 7.00 menuju Dam/Bendungan Sakura Regency.
Air Kali Cikeas nampaknya sedang kurang bersahabat, warna coklat yang pertanda menggerus tanah merah beserta sampah-sampah dan batang pohon nampak mengalir dengan deras.
Trek offroad nampak basah dan kayaknya kurang nyaman untuk diterabas.
Akhirnya diputuskan untuk onroad. Roda depan dibelokkanlah ke kanan ke arah Perum Satwika permai/Telkom.
Nggak banyak yang bisa dilihat, tapi banyak yang bisa dirasa yaitu nanjak terus sampai Jatisari.
Perjalanan dilanjut ke Ciangsana via Komplek AL. Perjalanan baru 15 km.
Kayaknya masih pagi, roda terus belok kanan terserah membawa sekehendak hati dan kaki menggowes. Sampai perempatan Nagrak-Cikeas dilanjutkan lurus ke Cikeas. Terus dan terus melaju walaupun tidak tahu arah dan tujuan sampailah di Wanaherang.
Tapi Nggak ada yang herang-herang, yang ada keruhnya kali Cileungsi sama dengan kali Cikeas.
Dari Wanaherang dilanjutkan terus mengikuti jalan raya yang ada. Ternyata keluar di jl. Raya Trans Yogie dekat perempatan Cileungsi. Langsung Belok kiri menuju pulang, mampir dulu di Basecamp JJ. di JJ ketemu sama Mas Yadi BFEGTB. Pulang bareng dengan rute offroad ke arah Sapta Pesona karena sambil nganter Kakek Tua Telkom, om William.
Itung punya itung lumayan hari ini dapet 44km, cukup dulu buat nguatin dengkulllll!!!


Blog EntryTiara dalam kenanganDec 19, '07 1:08 AM
for everyone
Kemarin, 18 Desember 2 tahun yang lalu teh Aya meninggalkan kami untuk kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Ya Allah,
Engkaulah Maha Pengatur Kehidupan yang Terbaik,
Baru saja kebahagiaan sekeluarga kami rasakan
Tentu karena Engkau yang mengatur dan menghendakinya
Engkau anugrahi kami putri ke-2 yang cantik & berbudi baik
Melalui dirinya Engkau bukakan kami pintu kebahagiaan
Melalui dirinya kami semakin saling menyayangi & mencintai
Melalui dirinya kami semakin mendekatkan diri kepadaMu ya Allah yang Maha Kuasa
Dan Maha Mengatur Kehidupan
Ia memberi kami arti kesabaran, keteladanan, kearifan
Ia memberi kami arti orang tua, kakak, adik
Ia memberi kami pelajaran berharga arti kebaikan seorang anak
Ia bahkan sering mengingatkan kami atas Nikmat Syukur Karunia Allah SWT dengan nyata
Ketika kami tengah asyik dengan anugerah cinta-Mu
Engkau datang menjemputnya begitu cepat
Engkau memintanya kembali lebih awal dari harapan kami
Kami tersentak ...!
Belum banyak yang kami lakukan untuk dirinya, dan masih lekat rasanya
dalam pelukan ini seluruh irama kehidupan yang ia tampilkan;
derai tawa, canda, celoteh, rengek-tangis dan ide-ide nakalnya...
Ya Allah,
Kami Ikhlas, kami ridha, harapan-Mu tentu yang terbaik buat kami
Ia pasti mendapat tempat istimewa diharibaanMu
Seperti juga kami semua mengharapkannya
Harapan kami adalah harapan-Mu jua
Engkaulah Maha Pengatur yang Maha Bijaksana,
dimana kami selalu bersujud, memohon, bersyukur, bertaqwa &
mempertebal keimanan kami sekeluarga.

Babab, Bubu, Teteh, Ade ...
Amin ya Robbal Alamin.

Blog EntrySippp lah!!! Anak & Istriku menikmati Light XCNov 30, '07 5:21 AM
for everyone

Sudah dua hari Minggu ini kami ber-XC ringan yang lumayan jaraknya.

Minggu 18/11/07,

Start dari Rumah sudah agak siang 6.30.
Route Rumah (KIG) - Kp. Pondok Benda - Sakura Regency
(pos Satpam) - benerin rantai patrol istriku, jadi tambah siang deh.
Perjalanan dilanjutkan melalui dam(bendungan) lanjut keluar depan Pom Bensin
di atas Perum Mahkota Pesona, lanjutkan lagi menuju VNI 3.
Anakku minta teh botol, akhirnya berhenti di warung dekat gerbang belakang VNI3.
Lanjut, masuk ke VNI3 menuju jembatan Bambu.
Dari Jembatan Bambu rute dilanjutkan ke arah Sirojul Munir - Jatisari.
Finish pertama adalah Pemakaman Jatisari tempat Tiara, putri kami yang kedua dimakamkan.

Rute pulang on road menuju arah komsen biasanya untuk pulang kami wisata kuliner.
Targetnya adalah Bakso Bonafide - dekat pintu Perum Asabri, apa daya masih tutup.
Perjalanan dilanjutkan dengan bonus turunan terus.
Akhirnya kami berhenti di depan Pom Bensin dekan Villa Jatirasa, yaitu Bakso Bambang.
yang walaupun kurang mak nyuss tapi cukup untuk mengobati perut yg pada kruyukan.


Minggu 25/11/07

Start lebih pagi jam 6 kurang. Anakku agak males2 mau ikut.
Route wajib adalah melalui dam (bendungan) Sakura Regency.
Cari rute ke VNI3 yg berbeda dengan rute Minggu sebelumnya, beberapa lama kami
tersesat di kebun orang.

Sampai akhirnya ketemu jalan belakang ke VNI3.

dari VNI3 saya ajak ke turunan Wah Moi (jadi tanjakan karena kami start dari VNI3).
jadilah istri dan anakku ber TTB ria.

Setelah Wah Moi, kami keluar trek di depan VNI 5,
Perjalanan Pulang on-road melalui VNI 5, bonus turunan lagi...

kuliner kali ini Mie Bangka di VNI dekat intermedia
Sayang anakku masih belum mau pake helm, padahal sudah punya. Abg .. abg ..


Blog EntryHoreee... ketemu sesama nyubiNov 27, '07 8:18 PM
for everyone
5.30 start dari rumah ... sperti biasa santai
6.05 lewat pos robeker  sepiiiiiiii
6.10 McD Pangkalan Jati
dari jauh keliatan ada si Om lagi brenti benerin speda. Ikut brenti dong.
Saya sapa dengan ramah (kenapa om?)
Ngemeng punya ngemeng ternyata namanya Om Pramono.
Gowes Perdana..
Rumahnya sekitaran Jatiasih juga di Pondok Gede Permai menuju RSCM.
Start Pangkalan Jati si Om Ngebut (katanya nyubi, ato saya yang lambat ya?)
baru ketemu di By Pass. Jalan bareng sampai Depan station Jatinegara.
Pertigaan Rawa Bening nengok ke belakang kok si om menghilang.
Tak tunggu lama nggak muncul. Mungkin ambil jalan lurus, (shiratal mustaqim kata Pak Ustadz)

Yah Gowes sendiri lagi    
Tapi tak lupa untuk mengundang si Om kalo mau bareng hari Jumat jam 6.00-6.15 didepan Hero billymoon

Moral Cerita:
Lain kali kalau mau bareng-bareng mendingan jadi "sweeper" ah.

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help