28
Februari 2008, Kang Gito menghembuskan nafas terakhir selepas maghrib 18.45. Siapa sih Gito Rollies, demikian pertanyaan yang diajukan anak saya yang ABG?.....memang banyak yang tidak mengenalnya... Beberapa waktu yang lalu saya sempat meminta ijin Om Denny Sakrie (DS), seorang pengamat musik, untuk mengutip tulisannya yang sebelumnya dimuat dikoran Tempo. Bagi saya Om DS ini adalah kamus berjalan untuk musik. Kebetulan salah satu lagu yang diungkap dibawah ("It's A Man's Man's Man's World") adalah favorit saya. Terimakasih Om DS atas ijinnya. Iwan=>bukan pengamat musik, bukan musikus, hanya penikmat musik.
KEPERGIAN SANG TUAN MUSIK
Oleh Denny Sakrie
(Koran Tempo Minggu 2 Maret 2008 halaman 21)
Pasang telinga,dengarlah hentakan musik ceria
Sambutlah datangnya hari ini
Buka jendela buanglah malasmu jauh kesana
Jadikan hari ini milikmu
Oh musik musik dengar Tuan Musik
Yang bernyanyi untukmu…….
(Tuan Musik,Gito Rollies 1984)
Tak ada lagi suara parau Gito Rollies yang melantunkan lagu “Tuan Musik” karya Oetje F Tekol yang termaktub dalam album solo perdananya di tahun 1984.Lelaki kelahiran Biak 1 November 1946 (1947,kali om DS) dengan nama lengkap Bangun Soegito Toekiman ,telah menghembuskan nafas terakhir tepat selepas Maghrib pada jam 18.45 WIB di RS Pondok Indah Jakarta Kamis 28 Februari 2008.
Kita pun terhenyak.Betapa tidak ? Pada Sabtu 12 Januari 2008 lalu,sosok Gito Rollies berkelebat dalam FTV bertajuk “Aku Memang Kampungan” di layar RCTI yang menceritakan perjalanan musik Kangen Band.Dalam sinetron lepas itu Gito Rollies memerankan dirinya sendiri dan menasehati Kangen Band yang terancam bubar.
Dan Gito Rollies yang sejak November 2007 telah mampu menjejakkan dan melangkahkah kakinya itu pun kembali melakukan dakwah keliling.Namun, Sang Khalik berkehendak lain.Tuan Musik pun harus memenuhi panggilanNya.
Hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada Jumat jam 13.30 WIB saat jasad Gito akan dikebumikan di TPU Tanah Kusir,laksana turut menyatakan duka yang dalam.
Siraman hujan seolah menguak kembali adegan demi adegan yang pernah dipertunjukkan Gito Rollies dalam kancah hiburan negeri ini.Tanpa terasa ternyata hampir 40 tahun Gito menghibur kita semua lewat alunan musiknya dan ketrampilannya berolah akting baik di layer lebar maupun di layar kaca.
Kembali terpapar di pelupuk mata saya manakala Gito senantiasa melantunkan lagu yang dipopulerkan mendiang James Brown “It’s A Man’s Man’s Man’s World” :
You see man made the cars
To take us over the world
Man made the train
To carry the heavy load
Man made the electro lights
To take us out of the dark
Man made the bullet for the war
Like Noah made the ark
Kita seperti melihat sosok Gito Rollies dalam makna lirik lagu yang berkonotasi soul blues itu.Sosok Gito sebagai lelaki yang tegar,yang tampil terdepan sebagai pemimpin.Sosok yang mampu memerangi bayang bayang hitam pada sekujur raganya sendiri.Gito mampu meluluhlantakkan keterkungkungannya terhadap narkoba yang telah menyelimutinya hampir seperempat abad dari usianya.
Sang Khalik ternyata menyayanginya. Memasuki usia 50 tahun Gito yang bergabung dengan kelompok papan atas The Rollies pada tahun 1968 menyadari kekhilafannya ,lalu mengisinya dengan perbuatan yang diridhaiNya.
Walaupun telah berada di jalan Illahi,Gito Rollies toh tidak serta merta meninggalkan naluri kesenimanannya. Dia tetap bermusik.Gito berduet dengan Opick dalam album “Istighfar” (Forte,2005) .Gito menyumbangkan suaranya bersama sederet artis dalam album bertema kemanusiaan seperti “ Tembang Peduli” (Ceepee 1998) hingga album “Kita Untuk Mereka” (Sony BMG 2005) untuk membantu korban Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam.Keingina nnnya untuk membuat album religius pun terwujud di tahun 2007 dengan merilis album “Kembali Pada Nya” (Sony BMG 2007).
Gito tetap setia pada musik rock meskipun dalam dimensi yang berbeda.Dia pun menyelipkan petuah dakwah.Lagu “Hari Hari” yang dilantunkannya pada album New Rollies Volume 3 di tahun 1978 dengan lirik yang beratmosfer hedonistik materialistik pun diubah menjadi :
Hari hari datang dan pergi
Dan kemarin bukan hari ini
Yang telah berlalu
Ingatlah selalu
Syukurilah hari ini
Sosok Gito pun masih berkibar di layar lebar. Misalnya, ia berperan sebagai penjual buku bekas yang bijaksana dalam film Ada Apa dengan Cinta (2000)yang disutradarai Rudy Sujarwo. Atau berperan sebagai Pak Ucok, yang bekerja sebagai pemutar film di bioskop sinepleks dalam film Janji Joni yang dibesut Joko Anwar. Di film ini juga, Gito Rollies berhasil meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.
Peran peran yang dimainkannya pada era ini memang memperlihatkan jiwa Gito yang stabil.Selalu menebarkan kebajikan pada sesama.Selalu memberikan wejangan.
Ah,kita pun merindukan desah parau Gito Rollies dalam “Burung Kecil”
Hai burung kecil silakan pergi
Terbanglah tinggi sesuka hati
Langit yang biru memang milikmu
Mungkin disana damai hidupmu
DENNY SAKRIE,pengamat musik